intercafe_ipb@apps.ipb.ac.id +62 251-8377896

Webinar Efektifitas Kebijakan Moneter Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia

  1. 1. Pembukaan
  2. Sambutan : Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim., MA.Ec

        (Direktur InterCAFE LPPM IPB University)

  1. 3. Webinar

Moderator : Dr. Syamsul H. Pasaribu, SE., M.Si

                    (Sekretaris InterCAFE LPPM IPB Univesity)

Pembicara :

      Dr. Aida S Budiman

      (Asisten Gubernur Bank Indonesia)

      Prof. Hermanto Siregar

      (Rektor Perbanas Institute dan Departemen Ilmu Ekonomi, IPB University)

  1. Sesi Tanya Jawab
  2. Pemberian Cenderamata dan Penutupan

Ringkasan :

Asisten Gubernur Bank Indonesia, Dr. Aida S Budiman

Pada bulan Juni 2020 wabah Covid-19 memasuki second wave dengan dampak yang signifikan bagi perekonomian domestik dan perekonomian global sehingga dapat dikatakan kondisi pandemic Covid-19 ini merupakan tantangan utama dan sangat challenging khususnya terkait dengan fungsi dan tugas Bank Indonesia dalam menyiapkan kebijakan yang komprehensif untuk menjaga dan mencegah perekonomian domestik mengalami situasi yang lebih memburuk. Q2 2020 ini merupakan situasi perekonomian dengan palung terdalam yang membentuk U shape, bauran kebijakan yang terintegrasi  (integrated policy mix) antara BI (yang memiliki wewenang terkait makroprudensial, sistem pembayaran dan moneter),  OJK (berwenang dalam mikroprudensial) dan otoritas fiskal diharapkan mampu mencegah perekonomian mengalami krisis lebih mendalam membantuk W atau  L shape.

Seperti juga yang dilakukan bank central di berbagai negara yang juga terdampak karena pandemic Covid-19, BI memiliki berbagai kebijakan dan bauran kebijakan berupa stimulus moneter untuk merespon berlanjutnya pelambatan ekonomi domestik seperti penurunan suku bunga, stabilisasi nilai tukar Rupiah, pelonggaran likuiditas dan makroprudensial, juga sistem pembayaran. Beberapa hal strategis yang akan dilakukan ke depan adalah sebagai berikut: 1) Penerapan protocol kesehatan secara baik untuk mendukung pemulihan dan pergerakan ekonomi; 2) Serapan belanja negara dikawal bersama, dalam hal ini BI memiliki inovasi dalam Quantitative Easing (QE) untuk mendukung sektor riil khususnya UMKM; 3) Mengawal pembukaan sektor-sektor ekonomi dengan tetap menerapkan protocol kesehatan; 4) Restrukturisasi kredit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi; dan 5) Mendukung digital economy.

Guru Besar Ilmu Ekonomi – Fakultas Ekonomi dan Manajemen – IPB, Rektor Perbanas Institute, Ketua Umum PERHEPI, Prof. Dr. Hermanto Siregar

Pengambil kebijakan di berbagai negara menghadapi trade off dalam menghadapi kondisi pandemi Covid-19, antara mortality rate yang hingga saat ini belum menunjukkan penurunan dengan kondisi sosial ekonomi.    Dalam jangka pendek, trade-off antara upaya menurunkan Covid-19 dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi (G) harus memilih mana yang menjadi prioritas. Bauran kebijakan fiskal dan moneter dapat menghilangkan trade-off tersebut.

Berikut tanggapan terhadap paparan dari Asisten Gubernur Bank Indonesia, Dr Aida Budiman: 1) Kerangka pemikiran yang disampaikan komprehensif dalam mengakomodir kompleksitas dan uncertainty terkait Covid-19.  Namun yang perlu diperhatikan adalah pada tataran implementasi; 2) Penilaian bahwa Mei 2020 sebagai bottom point tampaknya terlalu dini dan masih bersifat lokal, sebab kurva kasus positif harian dan total yang masih menanjak bisa menyebabkan indikator ekonomi yang mulai meningkat, turun kembali; 3) masih lemahnya pertumbuhan kredit di berbagai daerah menunjukkan ekonomi masih terus menurun (karena permintaan kredit adalah derived demand dari sektor riil perekonomian); 4) Bagan koordinasi kebijakan otoritas moneter dan fiskal menunjukkan sektor riil sebagai muara dari semua respons kebijakan. Sektor riil seharusnya dapat diposisikan bukan pada sekuens akhir kebijakan sehingga sektor riil tetap bisa berjalan tanpa harus menunggu berbagai kebijakan. Sebagai contoh, sektor pertanian/pangan perlu didorong oleh semua otoritas karena sektor tersebut merupakan sektor yang memenuhi kebutuhan dasar (dengan permintaan yang konstan dan in-elastic) sehingga dapat membantu menyerap tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi; 5) Pelaksanaan Quantitative Easing (QE) dengan pembelian SBN oleh BI di pasar perdana harus disertai dengan governance yang ekstra baik, selain itu tersebut harus diikuti oleh respons perbankan dan lembaga keuangan secara memadai. Pemantauan dampak setelah implementasi QE diikuti dengan feedback policy responses agar perbankan dan industri keuangan simultan dengan sektor riil digerakkan.

Download Materi :

PROSPEK DAN ARAH BAURAN KEBIJAKAN BANK INDONESIA DI ERA NEW NORMAL – Aida S. Budiman, Ph.D.

BAURAN KEBIJAKAN EKONOMI INDONESIA MASA PANDEMI COVID-19 – Hermanto Siregar

Leave a Reply